Kisah Inspirasi Arham Selo
Arham Selo lahir di Kampung Sikapa, Barru, pada 6 Agustus 1968, dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai petani dan dikenal sebagai sosok yang tekun beribadah serta menjaga hubungan sosial dengan baik. Sejak kecil, Arham dibesarkan dengan nilai kerja keras dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki masa depan.
Pendidikan dasar hingga menengah ia tempuh di daerah asalnya, mulai dari SD Negeri Sikapa, SMP Sikapa, hingga SMA Negeri 1 Barru yang diselesaikannya pada tahun 1987. Selama masa sekolah, Arham dikenal aktif dalam kegiatan pidato dan menulis, yang perlahan membentuk kemampuan berpikir dan berkomunikasinya.
Setelah lulus SMA, Arham melanjutkan pendidikan tinggi dan menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Kewarganegaraan pada tahun 1993. Usai menyelesaikan kuliah, ia memilih menjadi guru dan ditempatkan di Maluku Tengah. Profesi tersebut dijalaninya dengan penuh tanggung jawab hingga terjadinya kerusuhan Ambon pada tahun 1999, yang memaksanya kembali ke Makassar bersama keluarga.
Di tengah kondisi sulit tersebut, Arham tidak menghentikanlangkahnya. Ia melanjutkan studi S2 di bidang komunikasi sambil tetap mengajar. Setelah menyelesaikan pendidikan magister, ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri 19 Makassar, dengan tanggung jawab mengelola kegiatan akademik dan mendorong peningkatan kualitas guru serta siswa.
Pada tahun 2009, Arham mengambil keputusan besar dengan melanjutkan studi doktoral ke luar negeri. Ia memulai pendidikan di Massey University, New Zealand, kemudian melanjutkannya di Universiti Kebangsaan Malaysia. Proses tersebut dijalani dengan berbagai keterbatasan, namun ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada tahun 2015.
Sekembalinya ke Indonesia, Arham mengabdikan diri sebagai dosen. Pada 19 September 2019, ia resmi menjadi tenaga pendidik di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Tahun 2024, ia kembali dipercaya dengan amanah sebagai Sekretaris Jurusan Jurnalistik.
Dalam kehidupan pribadi, Arham menikah pada tahun 1997 dan dikaruniai tiga orang anak. Ia berusaha menjalankan peran sebagai kepala keluarga sekaligus pendidik dengan seimbang. Baginya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Kisah hidup Arham Selo menunjukkan bahwa keterbatasan dan tantangan dapat dihadapi dengan ketekunan melalui pendidikan dan pengabdian bagi sesama.
Penulis: Muhammad Ilham Septian
Nim: 50500122024
Komentar
Posting Komentar