Perjalanan Hidup yang Tangguh dan Penuh Kasi
Abdul Ukkas, lahir pada tahun 1970 di DusunParangmalengu, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ia tumbuh di tengah kehidupan desa yang sederhana bersama lima saudara lainnya, anak dari pasanganYajji dan Sapiah. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang sempat mengenyam pendidikan di tingkat SD, SMP, dan SMA, kehidupannya yang sulit sejak kecil membuat ia tak sempatmengenyam pendidikan formal. Sehari-harinya ia menggembalakerbau, membantu keluarga mencukupi kebutuhan hidup.
Ketika menginjak usia remaja, ia mulai berkelana mencaripenghidupan. Ia pernah bekerja di Kota Makassar sebagai buruhbangunan, hingga akhirnya menjadi nelayan. Bersama teman-temannya, ia berlayar jauh, dari Selayar hingga perbatasan NTT di selatan, bahkan sampai Tual, Ambon, di bagian timurIndonesia. Perjalanannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, dan ia selalu pulang dengan membawa ikan kering serta uanguntuk membantu keluarganya di kampung.
Kesempatan untuk memperbaiki nasib datang saat iamendapat tawaran merantau ke Samarinda, Kalimantan Timur. Demi kehidupan yang lebih baik, ia meninggalkan kampunghalamannya dan memulai hidup baru sebagai nelayan di sana. Di Samarinda, ia menemukan pujaan hati dan menikah denganSumarni, seorang wanita yang telah memiliki seorang putribernama Hadijah dari pernikahan sebelumnya. Abdul Ukkasmenerima Hadijah sebagai anak kandungnya sendiri, memberikan kasih sayang penuh, serta menyekolahkannyahingga SMA, bahkan sampai berkeluarga.
Selain menjadi nelayan, Abdul Ukkas bekerja serabutan di pelabuhan dan sempat mencoba peruntungan di perkebunankelapa sawit. Ia juga beternak sapi, tinggal di rumah kayusederhana di pinggiran kota. Kehidupan sederhana ini tidakmembuatnya surut semangat. Ia dikenal sebagai pria yang penuhcinta, terutama terhadap anak-anak kecil. Setelah Hadijahberkeluarga, ia menjadi seorang kakek yang sangat menyayangicucunya dan sering berbagi rezeki dengan tetangga, sepertimembeli buah-buahan untuk dibagikan.
Meskipun telah menetap lama di Kalimantan, Abdul Ukkastetap menjaga hubungan baik dengan keluarga di kampunghalamannya. Setiap tahun, ia pulang ke Makassar untukmerayakan Hari Raya bersama keluarga. Namun, kebahagiaanitu terhenti saat ia didiagnosis menderita penyakit jantung yang semakin parah. Usaha mencari pengobatan di Kalimantan danSulawesi tak membuahkan hasil.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menetap di Sulawesi. Iamenjual rumah, tanah, dan ternaknya di Kalimantan, lalukembali ke kampung halamannya dengan hasil penjualan itu. Di sana, ia melanjutkan hidup dengan beternak itik. Setiap hari, iadengan sabar merawat ternak-ternaknya, memanfaatkan teluruntuk dijual dan dikonsumsi bersama keluarga. Salah satukebahagiaannya adalah makan bersama keluarganya. Setelahbertahun-tahun berjauhan, momen kebersamaan itu menjadisangat berarti baginya.
Selama dua tahun, kondisinya sempat membaik. Namun, penyakitnya kembali kambuh, membuatnya sering keluar masukrumah sakit. Di masa-masa sulit itu, ia dirawat oleh saudara-saudaranya termasuk adik bungsunya, Tanri Oja, yang selalumemenuhi kebutuhannya dengan penuh kasih sayang.
Pada tanggal 29 Mei 2015, Abdul Ukkas mengembuskannapas terakhirnya di usia 45 tahun. Kepergiannya meninggalkanduka mendalam bagi keluarganya. Anak tirinya, Hadijah, datangdari Kalimantan untuk memberikan penghormatan terakhir. BagiHadijah, ia bukan sekadar ayah tiri, melainkan seorang ayah sejati yang telah memberikan cinta dan pengorbanan tanpapamrih.
Tanri Oja, sebagai adik bungsu, merasakan kehilanganyang begitu mendalam. Ia mengenang masa kecilnya bersamasang kakak, termasuk kenangan sederhana saat memanjat pohonmangga bersama.
Abdul Ukkas adalah sosok yang penuh cinta, tangguhmenghadapi kerasnya hidup, dan tak pernah lelah berjuang demi keluarga. Perjuangan dan kasih sayangnya akan selalu dikenangoleh mereka yang mencintainya. Semoga ia mendapat tempatterbaik di sisi-Nya.
Penulis : Siti Ulwiyah
Komentar
Posting Komentar