Langkah Ulwi bersama Kasih Sayang dan Cinta Keluarga yang Abadi

 


Pada tanggal 18 Desember 2004, seorang wanita yang penuh kasih melahirkan seorang anak gadis bernama Siti Ulwiyah, yang akrab disapa Ulwi di keluarga dan lingkungannya. Ibunya, Tanri Oja, dan ayahnya, Sudirman, adalah sosok yang sangat dikagumi oleh Ulwi. Ia juga memiliki seorang kakak laki-laki bernama Taufik. Meskipun hanya dua bersaudara, hubungan Ulwi dan Taufik tidak selalu harmonis. Mereka sering terlibat dalam perdebatan, baik masalah kecil maupun besar. Namun, di balik perselisihan itu, Ulwi tahu bahwa kakaknya adalah sosok yang penuh kasih sayang.

 

Ulwi memiliki kecintaan mendalam terhadap buku, terutama novel. Saat membaca novel, ia seolah-olah terbawa oleh alur cerita yang disajikan, mengikuti perkembangan karakter, dan menyelami emosi yang dituliskan oleh penulis. Baginya, membaca adalah cara untuk melarikan diri ke dunia yang berbeda, memberikan ruang bagi pikirannya untuk berpetualang dan melepas penat dari kesibukan sehari-hari. Selain membaca, ia juga senang menjelajahi tempat-tempat baru, terutama sebagai bentuk liburan. Setiap kali kembali dari perjalanan, ada perasaan damai dan bahagia yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya tersimpan dalam hati sebagai kenangan indah yang sesekali ia bagikan kepada orang terdekat.

Dalam hal percintaan, Ulwi sering mengalami kegagalan. Entah apa yang menjadi penyebabnya, tetapi satu hal yang pasti, ia tidak suka berlama-lama dalam kesedihan. Sebagai pelampiasan, ia sering memilih menjelajahi tempat-tempat indah dengan sepeda motor. Mengunjungi tempat baru memberinya kelegaan dan membantu mengatasi perasaan negatif, menggantinya dengan keindahan alam dan suasana yang tenang.

 

Sekarang, pada usia 20 tahun, Ulwi menjalani kehidupan yang sibuk, baik di rumah maupun di kampus, dan ia menikmati kesibukan itu. Ulwi memang tipe orang yang tidak bisa diam. Setiap hari, ia mencari kegiatan yang bisa dilakukan, hingga kadang mendapat teguran dari ayah dan ibunya karena terlalu sering berada di luar rumah. "Keluar terus, sekali-sekali diamlah di rumah!" begitu ujar mereka. Namun, Ulwi merasa beruntung memiliki orang tua yang peduli dan perhatian terhadap anak-anaknya.

 

Sejak kecil, Ulwi dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Saat ia mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2010, ibunya selalu memastikan segala sesuatunya berjalan baik. Setiap kenaikan kelas, ibunya membelikan baju baru untuknya dan sering mengikat rambut Ulwi tinggi-tinggi, meskipun hal itu kadang membuatnya kesal. Ibunya juga selalu menyiapkan sarapan setiap pagi dan bahkan mengikuti Ulwi dari belakang pada momen penting seperti upacara 17 Agustus. Semua itu dilakukan dengan penuh cinta selama enam tahun Ulwi bersekolah di SD.

 

Di masa SD, Ulwi dikenal sebagai anak yang rajin belajar. Ia sering kali meraih peringkat di kelas, entah itu peringkat 1, 2, atau 3, yang tentunya membuat orang tuanya bangga. Meski pencapaian ini tampak sederhana, Ulwi selalu bersyukur atas apa yang diraihnya. Lingkungan pertemanannya juga mendukung, karena ia dikelilingi teman-teman yang ambisius dalam akademik. Bersama mereka, Ulwi merasakan semangat belajar yang sama.

Walaupun dikenal sebagai anak pendiam di sekolah dan lingkungan sekitar rumah, Ulwi berubah menjadi aktif ketika bersama teman-temannya. Mereka sering bermain di belakang rumah, memanjat pohon, bermain rumah-rumahan, dan mencari buah-buahan di kebun, aktivitas yang kini hanya tinggal kenangan yang ia ceritakan.

 

Pada tahun 2016, Ulwi melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kasih sayang ibunya tidak berubah, tetap seperti saat ia di SD. Ulwi kembali meraih peringkat di kelas, meneruskan prestasi yang telah diraihnya sejak SD.

 

Pada tahun 2019, Ulwi melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Saat itu, ia mulai menyadari bahwa tanggung jawab ibunya semakin berat, terutama untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, seperti laptop yang sulit dimiliki. Namun, ibunya berusaha keras agar Ulwi mendapatkan apa yang ia butuhkan, karena tidak ingin Ulwi meminjam barang dari orang lain dan khawatir jika barang tersebut rusak.

Namun, di tengah kehidupan SMK, cobaan besar datang menghampiri keluarga mereka. Ibu Ulwi sering merasakan sakit kepala yang sangat parah. Awalnya, mereka mengira itu hanya sakit kepala biasa yang bisa hilang dengan obat, tetapi rasa sakit itu terus muncul hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil CT scan menunjukkan bahwa ibu Ulwi menderita tumor. Berita itu sangat mengguncang keluarga mereka karena mereka tidak menyangka ibu yang begitu kuat harus menghadapi cobaan seberat ini.

 

Dokter menyarankan untuk operasi guna mengangkat tumor, namun ibunya merasa takut mendengar risiko operasi. Ia mencoba pengobatan alternatif, termasuk mengonsumsi obat herbal, meski tidak ada perubahan berarti. Akhirnya, ketika rasa sakit semakin parah hingga beberapa kali kehilangan kesadaran, mereka memutuskan untuk membawa ibu ke rumah sakit.

 

Pada hari operasi, Ulwi merasakan perasaan campur aduk. Melihat rambut panjang ibunya dicukur habis sebelum operasi dan tubuhnya yang semakin kurus membuat hati Ulwi hancur. Namun, ia berusaha tetap kuat di depan ibu dan keluarganya. Operasi berjalan lancar, meskipun proses pemulihannya tidak mudah. Mereka bersyukur ibu Ulwi bisa melewati masa kritis itu.

 

Setelah operasi, ibunya harus menjalani kontrol rutin di rumah sakit. Kadang, ibunya merasa lelah dan khawatir tentang biaya yang harus dikeluarkan, tetapi semangatnya untuk pulih tidak pernah pudar. Seiring waktu, ibunya kembali pulih, dan kehidupan keluarga mereka berangsur membaik.

Setelah lulus dari SMK, Ulwi memutuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Awalnya, ia sempat ragu untuk kuliah karena tidak ingin merepotkan orang tuanya. Namun, dukungan mereka membuatnya yakin untuk melanjutkan studi. Ia diterima melalui jalur SBMPTN dan menjadi mahasiswa di program studi Jurnalistik.

 

Di semester pertama, Ulwi sangat ambisius dalam akademik. Ia memiliki teman-teman yang sejalan, dan bersama mereka, ia merasakan semangat besar untuk belajar. Namun, seiring waktu, ia merasa bosan dengan rutinitas kuliah yang monoton dan mencari kesibukan lain. Akhirnya, ia bergabung dengan organisasi Pers Mahasiswa UKM Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) Washilah, di mana ia menemukan teman-teman baru dari berbagai jurusan dan latar belakang, yang memberikan wawasan dan pengalaman berharga.

 

Selama magang 14 bulan di organisasi ini, Ulwi belajar banyak tentang kerja sama tim, tanggung jawab, dan bagaimana mengelola kegiatan jurnalistik. Meski ada kalanya merasa bosan dan lelah, semangat teman-teman di organisasi selalu membuatnya bertahan. Hingga saat ini, ia masih aktif di organisasi tersebut dan merasa beruntung berada di lingkungan yang mendukung perkembangan dirinya.

 

Di tengah kesibukan kuliah dan organisasi, Ulwi selalu merindukan rumah dan waktu bersama ibu dan ayahnya. Bagi Ulwi, ibu adalah tempat pulang terbaik yang tidak akan pernah tergantikan. Melalui perjalanan hidup ini, Ulwi menyadari betapa berharganya cinta dan dukungan keluarga, terutama ibu yang selalu ada di setiap langkah hidupnya. Dari masa kecil hingga dewasa, ibu adalah sumber kekuatan dan inspirasi bagi Ulwi, dan ia berharap kasih sayang dan cinta ibunya akan selalu menjadi penuntun dalam hidupnya.


Penulis : Siti Ulwiyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Komunikator Terbaik, Mr. Koronis Ajak Apresiasi Peran Guru di Hari Guru Nasional

Komunikasi Penuh Kasih Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Teladan Nilai Kemanusiaan dalam Al-Quran

Komunikasi Ketahanan Keluarga Kronis