In Memoriam: Amiruddin Dg. Patunru : Mengenang 2 tahun kepergian ayah kami (20 Juli 1980 – 27 Oktober 2022)

 Dua tahun sudah berlalu sejak Amiruddin Dg. Patunruatau yang akrab disapa Amir, meninggalkan dunia inimeninggalkan keluarga yang begitu mencintai dan menghormatinya. Sosok yang lahir di Malili pada 20 Juli 1980 ini berpulang ke rahmatullah pada 27 Oktober 2022, di usia yang masih mudayakni 42 tahunIa menghembuskannapas terakhirnya selepas Magrib di Gowayang dituntunoleh ibu kandung dan ibu mertuanya, dua wanita hebat yang mendampinginya hingga detik terakhir kehidupannya.

Kepergian Amir adalah akhir dari perjuangan panjangmelawan penyakit tumor ganas pada usus besar, yang didiagnosis sejak tahun 2020. Selama dua tahun, Amir menunjukkan kekuatan dan ketegaran luar biasaIa menjalaniberbagai pengobatandari cek medis rutin di berbagai rumahsakit di Sulawesi Selatanoperasi pemasangan kolostomikarena tumor ganas di anus, hingga kemoterapi bulanan dan radiasi harian selama 40 hari berturut-turutSemua itu iajalani tanpa keluhantanpa menyerahbahkan ia tetap menjadipilar penguat untuk keluarganya.

Amir adalah simbol keberanianMeski tubuhnyasemakin melemahsemangatnya tidak pernah padam. Bagi Amir, perjuangan ini bukan hanya tentang dirinyatetapitentang keluarganyaterutama anak-anak dan istrinya yang iacintai sepenuh hatiBahkan di tengah rasa sakit yang luarbiasaia masih sempat berkata kepada mereka, "Jangankhawatirbapak akan sembuh, dan kita akan kembali jalan-jalan seperti dulu."

Sebelum sakit, Amiruddin adalah pribadi yang ceria dan murah senyumIa dikenal sebagai seseorang yang sukaberbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitarnyaHampir seluruh Malili mengenalnya. Jika ia berjalan di pasar, di jalanatau di sudut-sudut kotaselalu ada saja orang yang iasapa atau yang menyapanya lebih duluKeramahannyamenjadikan ia salah satu figur yang dikenang oleh banyakorang.

Dalam hal pekerjaan, Amir adalah seorang pekerja kerasyang pantang menyerahIa pernah menjadi sopir mobilpekerja tambanghingga tukang ojek. Namunlangkahnyatidak berhenti di situ. Dengan semangat kewirausahaan yang ia miliki, Amir merintis usaha CITA RASA, yang menjualpopcorn yang dititipkan di berbagai kedai di Luwu Timur. Selain ituia juga menjual sarapan pagi di kantor-kantorpemerintahUsahanya yang penuh inovasi ini membuatnyadijuluki Amir Buburjulukan akrab yang diberikan oleh pelanggannya.

Amir adalah sosok ayah dan suami yang luar biasa. Bagi keluarganyaia adalah pelindungpembimbingsekaligusteman terbaikKebahagiaan keluarganya adalah prioritasutamanya. Salah satu tradisi yang ia bangun bersama istri dan anak-anaknya adalah menghabiskan akhir pekan untukbepergianMereka sering melakukan perjalanan keluarga keberbagai tempatseperti Toraja, Malino, Kendari, dan Bulukumba. Impian terbesar Amir adalah suatu hari nanti bisamengajak keluarganya berkeliling Indonesia dengan mobilkesayangannya.

Kecintaannya pada mobil juga terlihat dari hobinya yang sering menghabiskan waktu di bengkelSetelah pulangberjualan, Amir kerap pergi ke bengkelmembongkar dan merawat mobilnyameskipun sebenarnya mobil tersebut tidakmengalami kerusakanBaginyamengutak-atik mobil adalahbentuk relaksasi dan kesenangan pribadi.

Sebagai seorang ayah, Amir sangat peduli pada pendidikan anak-anaknyaIa selalu menanamkan nilai-nilaibahwa pendidikan adalah jalan untuk meraih masa depan yang lebih baikBahkan sebelum putri sulungnyaSity Asriyantimasuk kuliah, Amir sudah membeli sebuah rumah di dekatUIN Alauddin Makassar. Ia ingin memastikan bahwa putrinyatidak perlu tinggal di kos atau bergantung pada rumah kerabatketika melanjutkan pendidikan tinggi.

Namunrencana itu terhenti ketika penyakitnyamemburukKondisi keuangan keluarga terguncang karenabiaya pengobatan yang terus meningkatMeski demikian, Amir tidak pernah membiarkan kondisi tersebut menghalangipendidikan anak-anaknyaIa berkata kepada putrinya:

"Kuliah nak, jangan risaukan tentang biaya kuliahmuSelagikau berusaha dengan benarinsyaallah Allah akanmempermudah jalanmu. Ada-adaji rezekimu nanti itu. Bapak ini hanya perantara Allah untuk sampaikan rezeki-Nya kekau. Jadi ada tidak adanya bapak nantikalau rezekimukuliahpasti bisako kuliah."

Kata-kata itu menjadi pegangan bagi Sity Asriyanti. Bahkanbiaya UKT pertama kuliahnya berasal dari tabunganAmir yang sebenarnya disiapkan untuk membeli obat selamakemoterapiNamundengan cinta dan pengorbananiamenyerahkan tabungan itu demi masa depan putrinya.

Amir adalah teladan bagi keluarganyasosok yang penuhcinta dan pengorbananKepergiannya pada 27 Oktober 2022 menjadi duka yang mendalam bagi mereka. Hari itusetelahsekian lama berjuang melawan rasa sakit, Amir akhirnyamenyerah kepada takdir Allah. Ia menghembuskan napas terakhirnya dengan tenangdikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.

Meski telah tiadakenangan tentang Amir terus hidup di hati keluarganyaSahariaistri yang telah mendampinginyadalam suka dan dukakini menjalani peran ganda sebagai ibusekaligus ayah bagi kedua anak merekaSity Asriyanti dan Nuraini PutriKedua anaknya juga terus berusahamembanggakan nama ayah mereka dengan melanjutkanpendidikan dan mewujudkan impian-impian yang pernahmereka rencanakan bersama.

Bagi keluarga ini, Amir bukan hanya sosok ayah dan suamiIa adalah fondasiinspirasi, dan semangat untuk terusmajuSetiap langkah yang mereka ambil kini adalah bentukpenghormatan dan cinta kepada pria yang telah memberikansegalanya untuk mereka.

Pengorbanan dan dedikasi Amir adalah bukti cinta sejatiseorang suami dan ayah. Dua tahun setelah kepergiannyawarisan kasih sayangnya terus hidup di hati mereka yang mengenalnya. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, dan semoga keluarga yang ditinggalkannyadiberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangan yang telah iamulai.


Penulis : Siti Asriyanti Utami 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Komunikator Terbaik, Mr. Koronis Ajak Apresiasi Peran Guru di Hari Guru Nasional

Komunikasi Penuh Kasih Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Teladan Nilai Kemanusiaan dalam Al-Quran

Komunikasi Ketahanan Keluarga Kronis