Rantau Ditanah Orang
Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, maka dari itu saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Ahmad Hayullah biasa disapa Bambang. Saya anak kedua dari dua bersaudara. Kakak saya bernama Bakri Wahid. Sebagai saudara saya sangat akrab dengan kakak saya. Saya anak yang keras kepala. Keluarga saya sangat sabar menghadapi sikap keras kepala yang saya miliki. Terkait nama sapaan Bambang yang melekat dalam diri saya, mungkin orang yang baru dengar nama sapaan saya itu cukup aneh ditelingannya karena nama sapaan itu tidak ada sama sekali asal usulnya dari nama lengkap saya. Sedikit mejelaskan mengenai nama panggilan atau nama sapaan Bambang yang disematkan kepada saya. Pada tanggal kelahiran saya 20 Oktober 2004 bersamaan dengan hari itu Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dilantik menjadi Presiden RI. Itulah mengapa bapak saya memberi nama sapaan Bambang. Saya lahir di Tombolo Desa Lasaa-lassa, Kecamatan Bontolempangan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Saya sangat gemar memotret dan mengabadikan momen dengan hasil foto yang saya bidik. Kegemaran ini bermula ketika saya bersama rekan saya sering pergi bersama untuk sekedar memotret alam dan kebersamaan yang kami lewati. Sejak saat itu saya sering memegang kamera dan mulai melatih kemampuan dasar yang saya milki dibidang fotografi. Tahun 2009 bapak saya meninggal dunia akibat sakit tipes yang dideritanya. Kala itu, saya masih berusia 5 tahun dan belum sama sekali mengetahui apa-apa. Dua tahun berikutnya saya menduduki bangku Sekolah Dasar (SD) di SDN Lemoa Lassa-Lassa. Ketika saya menginjak kelas 2, ibu saya merantau ke Malaysia dan menitipkan saya ke tante saya. Selama berada dibangku SD saya tumbuh menjadi anak yang pemalas akibat pergaulan dan lingkungan sekitar. Seringkali saya bolos dari sekolah hanya untuk bermain game bersama teman. Setelah lulus, saya melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Islam Nurul As’adiyah Lassa-Lassa. Semasa SMP pribadi saya mengalami perubahan dari anak pemalas menjadi anak rajin yang mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Saya juga aktif di ektrakulikuler pramuka dan berbaur dengan teman-teman yang lain. Selama bersekolah disini saya sering tampil untuk melakukan kultum atau ceramah sesuai jadwal yang ditetukan oleh guru.Kemudian, saya memutuskan untuk lanjut di Sekolah Menengah Atas (SMA) Islam Nurul As’adiyah Lassa-Lassa pada tahun 2019. Proses pembelajaran berlangsung secara normal pada awal-awal sekolah. Hingga tiba waktu ketika Corona Virus 19 (Covid-19) mulai masuk di Indonesia dan terdapat himbauan jika pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka dialihkan menjadi daring ketika saya berada di bangku kelas 11. Kala itu, ibu saya juga menyuruh saya untuk menyusulnya ke Malaysia. Alhasil dengan berat hati saya berangkat seorang diri ke Malaysia. Selama membantu orang tua untuk bekerja di Malaysia saya juga tetap mengikuti pembelajaran di sekolah via daring. Malaysia menjadi negara baru yang akan saya tempati untuk mencari uang. Awalnya saya bekerja memungut biji sawit yang jatuh. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Lalu, saya beralih ke bagian angkat bibit sawit. Kemudian, saya ditugaskan kebagian driver forklift atau pengemudi mobil untuk memidahkan pupuk. Terakhir, saya ditempatkan di rem (penampungan sawit). Kurang lebih dua tahun waktu yang saya habiskan untuk bekerja disana Lalu, pada tahun 2021 saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena sekolah akan dimulai dan kembali secara luring atau tatap muka. Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa saya akan lulus dari sekolah dan harus segera melanjutkan kuliah sesuai keinginan saya. Ketika ingin mendaftar melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pilihan pertama saya jatuh pada Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif di Universitas Negeri Makassar (UNM). Alasan saya memilih Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif karena kegemaran saya dalam mengotak-atik motor seperti mesin dan tampilan luar motor. Namun takdir berkata lain saya dinyatakan lulus pada pilihan kedua saya di Jurusan Jurnalistik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Alasan saya memilih Jurusan Jurnalistik karena awalnya saya mengira Jurusan Jurnalistik hanya mempelajari tentang fotografi yang kebetulan adalah suatu hal yang sangat saya minati. Akan tetapi ketika sudah masuk di jurusan ini saya baru mengetahui jika Jurnalistik adalah ilmu yang mempelajari tentang teknik kepenulisan berita.Ketika menjadi mahasiswa baru, saya sempat berpikir akan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru yang saya miliki. Akan tetapi, saat bertemu dengan sesama teman jurusan ternyata berkawan bersama manusia baru tidak sesulit yang saya pikirkan. Saya ditempatkan di kelas Jurnalistik A. Awal masa perkuliahan saya hanya menjadi mahasiswa yang kuliah dan pulang saja. Namun, saya merasa pola hidup seperti itu tidak efektif untuk saya jalani selama menjadi mahasiswa. Apalagi saya betul-betul minim pengetahuan terkait jurnalistik. Alhasil saya memutuskan untuk mengubah pola hidup dengan memutuskan untuk mencari kegiatan positif yang bisa mengembangkan pola pikir dan kemampuan saya. Selama menjadi mahasiswa dijurusan ini saya mencoba mendalami ilmu jurnalistik dengan masuk disalah satu media pers kampus yang bernama alanbantik.com. Di alanbantik, awalnya saya ditempatkan di divisi Digital Marketing (DM) yang mengurus terkait tawaran kerja sama dari Lembaga lain. Namun, karena jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih kurang, akhirnya saya dialihkan ke bagian Desain. Saya mulai mengembangkan kemampuan lain yaitu mencoba untuk membuat desain sampul berita menggunakan aplikasi Canva. Saya pikir itu adalah tugas yang mudah.Nyatanya sangat sulit memvisualisasikan gambaran yang ada di otak untuk dituangkan dalam satu karya ilustrasi. Berproses di alanbantik membuat saya sedikit paham terkait Jurusan Jurnalistik. Alanbantik mengajarkan skill kepenulisan dasar berita yang membuat saya kebingungan ketika masih menjadi mahasiswa baru. Tak hanya itu, alanbantik juga mengembangkan kemampuan berkomunikasi saya melalui wawancara narasumber ketika ingin menulis suatu berita. Salah satu pengalaman saya selama melakukan liputan di alanbantik yaitu berkutat dengan pihak rektorat untuk membahas kolam eduwisata yang terbengkalai tepat di samping rektorat. Kala itu sangat sulit untuk bertemu Wakil Rektor 2 setelah menunggu berjam-jam. Lalu, saya juga sempat melakukan wawancara kepada pihak Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) di gedung P2B. Hal itu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya sekaligus menjadi kesempatan pertama untuk saya mewawancarai pejabat kampus. Tidak terasa saya sudah menginjak semester 5 ketika sedang menulis autobiografi ini. Saya tidak pernah menyesal bisa berproses dan berkembang dengan baik di jurusan ini. Beberapa pengalaman berharga dan orang yang terlibat dalam proses ini membuat saya bersyukur setiap harinya. Meskipun masih banyak hal yang harus saya usahakan namun saya percaya saya bisa melewatinya.
Penulis : Ahmad Hayullah

Komentar
Posting Komentar