Memperbaiki Hidup Lewat Foto

 Maman Sukirman atau familiar disapa Maman. Lahir di Sebatik pada 02 Mei 1983. Maman menamatkan Sekolah Menengah Pertamanya di SMP 01 Sebatik Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 1999. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMU) Mahaputra Makassar. Lalu, tahun 2002 hingga 2009 ia menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (UNHAS).Selama berkuliah di UNHAS, maman tidak pernah terbayang akan terjun ke dunia fototografi. Semua itu bermula pada tahun 2004 ketika ia masuk ke dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi di kampusnya. Mulanya ia tidak memiliki niat untuk menjadi seorang jurnalis foto namun alasan utama yang membuatnya mempelajari fotografi kala itu adalah untuk mencukupi biaya hidupnya di Makassar. Kemampuannya dalam bidang fotografi ia gunakan untuk memotret momen penting dari beberapa temannya seperti wisuda, pengantin atau dokumentasi kegiatan.Tahun 2005, Maman ikut bergabung dalam Penerbitan Kampus (PK) Identitas UNHAS. Disana ia mulai mempelajari foto jurnalis yang sedikit berbeda dari foto yang biasa ia tangkap. Dari sini juga lah penawaran untuk menjadi salah satu anggota magang di media cetak mengahampirinya. Ia mendapat tawaran untuk bergabung menjadi fotografer di media Pedoman Rakyat. Kesempatan itu Maman ambil untuk memperdalam kemampuan yang ia miliki. Setahun ia menjadi bagian dari Pedoman Rakyat. Namun ia tak berhenti disitu saja. Ketika tahun 2007 saat itu Maman sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Barru dan mendapat kabar jika Koran Sindo membuka pendaftaran untuk biro Makassar. Tak berpikir panjang, ia langsung mendaftarkan dirinya. Suatu bentuk kesyukuran karena di tahun yang sama ia diterima menjadi fotografer di Koran Sindo dan ia konsisten untuk bekerja disana hingga saat ini. terhitung sudah 17 tahun ia mengabdi di media tersebut.Ditengah kemunduran pembaca media cetak dalam bentuk koran, Koran sindo tetap mengeluarkan karyanya karena pengiklan terutama pengiklan dari pemerintah lebih gemar beriklan di media cetak. Selain menjadi fotografer, Maman juga merangkap sebagai editor foto, videografer, editor video dan pengelola sosial media. Foto yang ditangkap oleh Maman tak hanya ia publikasikan di Koran Sindo melainkan beberapa karya foto ia sengaja sediakan untuk diujicobakan bersaing dengan karya foto dari fotografer lain di media sosial. Telah banyak prestasi yang Maman ukirkan dalam dunia foto sejak tahun 2010 hingga 2024. Prestasi yang ia raih seperti juara 1 lomba foto Hak Asasi Manusia (2010), Juara 1 Lomba foto Kementrian Periklanan dan Kelautan (2010), juara 1 lomba fotoKemnetrian Periklanan dan Kelautan (2011), juara 2 lomba foto Kementrian Pertanian dan Kehutanan (2011), juara 1 lomba foto Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kategori People In The News (2011), juara 2 lomba foto Permainan Tradisional (2011), juara 2 lomba foto Pendidikan Astra (2011), juara 3 lomba foto Bank ICBC (2012), juara 1 lomba foto Telkom (2013), juara 1 lomba foto Telekomunikasi XL (2013), juara 2 lomba foto Kementrian Ketenagakerjaan (2013), juara 3 lomba foto Pelabuhan Indonesia (2014), juara 2 lomba foto Kemnetrian Kesehatan (2014), juara 1 lomba foto Museum Perumusan Naskha Proklamasi (2014), juara 1 lomba foto TNI (2015), juara 1 lomba foto Telekomunikasi XL (2015), juara 2 lomba foto Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2016), juara 1 lomba foto Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kategori Art and Entertainment (2017), juara 1 lomba foto Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tiggi (2017, juara 1 lomba foto Komisi Pemilihan Umum (2017), juara 1 lomba foto Mabes Polri (2018), juara 2 lomba foto Perusahaan Gas Negara (2018), juara 1 lomba foto Lembaga Penjamin Simpanan (2018), juara 1 lomba foto Bank Negara Indonesia (2018) dan masih banyak lagi. Baginya mengikuti lomba sama seperti memperbaiki kualitas foto yang ia hasilkan. Selalu ada semangat tersendiri bagi Maman untuk mengikuti lomba foto yang diadakan di media sosial. Setiap karya foto tentu memiliki pengalaman tersendiri bagi Maman. Ia sangat mengingat tahun itu 2011, ia memiliki tugas liputan untuk meliput demo Hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia. Dari beberapa foto yang ia dapatkan, ada satu foto yang sangat menarik perhatian banyak orang. Foto itu adalah foto yang digambarnya terdapat seorangkakek yang berlindung dibalik bucket eskavator. Selain menangkap sisi lain dari demo, perjuangan Maman untuk mendapatkan foto itu juga memiliki resiko yang besar. Kala itu, ditengah riuhnya sorakan demo serta maraknya aksi yang terjadi, Maman harus bertahan untuk memantau demi mendapat hasil foto terbaik. Gas air mata yang dikeluarkan oleh pihak kepolisian mengenai matanya. Kameranya juga penuh dengan percikan lumpur namun itu tidak mengurangi semangat Maman untuk memotret momemn tersebut sehingga hasil foto seorang kakek yang berlindung di balik bucket eskavator demi menyelamatkan diri dari demo mampu ia abadikan. Selain menjadi juara 1, foto tersebut juga menarik perhatian banyak kalangan kepada sang kakek. Alhasil, beberapa donasi masuk dan bisa membantu untuk memenuhi sedikit biaya kehidupan kakek tersebut. Tak hanya bantuan dari masyarakat Indonesia akan tetapi bantuan dari luar negeri juga ikut tersalurkan pada sang kakek.Maman juga pernah memotret momen ketika beberapa anak sekolah di Tompobulu harus menyebrangi sungai untuk bisa sampai di sekolahnya. Tak menunggu waktu yang lama foto tersebut viral dan mendapat perhatian dari pemerintah. Alhasil, jalur tersebut kini telah dibuatkan jembatan agar para masyarakat khususnya anak sekolah bisa melintas dengan aman. Hasil yang ia dapatkan dari memotret mampu ia belikan rumah, mobil, beberapa kamera hingga membuka foto studio mini di rumahnya. Sampai sekarang, Maman tetap memperbaiki kualitas fotonya setiap hari melalui hunting foto yang ia lakukan berdasarkan inisiatifnya sendiri. Baginya, memotret adalah hal yang sangat menyenangkan.

Penulis : Ahmad Hayullah 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Komunikator Terbaik, Mr. Koronis Ajak Apresiasi Peran Guru di Hari Guru Nasional

Komunikasi Penuh Kasih Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Teladan Nilai Kemanusiaan dalam Al-Quran

Komunikasi Ketahanan Keluarga Kronis