Membara dari Keterbatasan : Perjalanan hidup Sity Asriyanti dan mimpi besarnya
Nama saya Sity Asriyanti Utami,
biasa dipanggil Anti, lahir di Malili, Luwu Timur, pada 12 Januari 2005. Anak
pertama dari dua bersaudara, dengan adik bernama Nuraini Putri Amalia.
Kehidupan sederhana ini dipenuhi perjuangan orang tua, Amiruddin (almarhum) dan
Saharia, yang selalu menekankan pentingnya pendidikan meskipun dalam
keterbatasan.
Kehidupan kami mungkin tampak
sederhana di luar, tetapi di dalamnya terdapat semangat yang tak pernah padam
untuk terus maju. Orang tua, terutama ayah, selalu menjadi inspirasi terbesar.
Beliau bekerja keras demi keluarga, dan meskipun telah tiada, pengorbanannya
tetap menjadi pendorong utama untuk meraih mimpi.
Ayah selalu menekankan
pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk mengubah nasib. Meskipun hidup dalam
keterbatasan, beliau tak pernah menyerah memberikan yang terbaik. Pesan-pesan
ini terus terngiang dalam pikiran, memotivasi untuk tidak pernah menyerah dalam
menghadapi segala tantangan.
Melalui pengalaman hidup yang
penuh liku, banyak pelajaran tentang ketabahan dan kerja keras. Tumbuh di
lingkungan yang penuh cinta, setiap rintangan dijadikan pelajaran berharga.
Inilah yang ingin dibagikan dalam perjalanan hidup—bagaimana menghadapi tantangan
dan terus berjuang untuk mewujudkan impian, meski keadaan tidak selalu mudah.
Kehidupan Keluarga dan
Perjuangan Orang Tua
Kehidupan keluarga kami
sederhana namun penuh cinta dan pengorbanan. Ayah bekerja keras, mulai dari
pengumpul besi tua hingga tukang ojek keliling. Meskipun penghasilan tidak
besar, beliau tak pernah menyerah untuk meningkatkan taraf hidup keluarga. Salah
satu usahanya adalah menjual popcorn dan sarapan keliling, sehingga dikenal
dengan julukan “Amir Bubur.”
Bersama adik, sering kali
membantu ayah berjualan takjil selama bulan Ramadhan, terutama saat berjualan
di depan ruko temannya menggunakan mobil. Pada awalnya, perasaan canggung dan
malu menghampiri, terutama ketika bertemu dengan teman-teman sekolah atau guru
yang kebetulan lewat. Ada kekhawatiran mereka akan memandang rendah pekerjaan
ayah. Namun, seiring waktu, mulai terlihat sisi lain dari pengalaman ini.
Belajar dari ayah yang selalu
ramah kepada siapa pun, entah itu pelanggan tetap, anak-anak kecil, atau orang
tua yang sekadar lewat. Sering menyaksikan ayah memberikan takjil secara
cuma-cuma kepada anak temannya atau orang tua yang kebetulan lewat tanpa
meminta bayaran. Hal ini menyadarkan bahwa kebaikan hati ayah jauh lebih
berharga daripada rasa malu. Sikap beliau yang murah hati dan selalu peduli
pada orang lain sangat menginspirasi.
Meskipun hidup dengan
keterbatasan, ayah selalu menekankan pentingnya pendidikan. Beliau selalu
berkata bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kesulitan hidup. Pesan ini
membekas di hati dan menumbuhkan tekad untuk tidak menyia-nyiakan perjuangan
mereka.
Keluarga juga selalu
menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Suka mencari tempat wisata di
Sulawesi Selatan dan menjelajahinya bersama. Karena sering bepergian,
orang-orang sering bercanda bahwa mobil kami adalah rumah kedua karena selalu
berada di jalan bersama.
Pendidikan Awal: Dari TK Hingga
SD
Pendidikan saya dimulai pada
usia 3 tahun ketika masuk Taman Kanak-Kanak (TK), mengikuti teman-teman bermain
yang lebih tua. Saat berusia 5 tahun, melanjutkan ke SDN 222 Batu Merah,
sekolah kecil yang terletak sekitar 300 meter dari rumah. Meski jarak sekolah
dekat, ayah selalu mengantar dan menjemput saya setiap hari dengan sepeda
motor. Teman-teman sering menggoda dengan sebutan "anak manja,"
tetapi bagi saya, itu adalah bentuk kasih sayang dari orang tua.
Pada masa SD, tidak ada prestasi
akademik yang menonjol. Bahkan, mengalami kesulitan dalam beberapa pelajaran,
terutama matematika. Namun, perubahan besar terjadi ketika berada di kelas
enam. Wali kelas, Pak Isak Mangetek, melihat potensi yang belum tampak
sebelumnya. Beliau dengan sabar mengajari dan memberikan tantangan matematika
yang semakin membuat saya berkembang.
Setiap hari, Pak Isak memberikan
ratusan soal yang harus dikerjakan. Perlahan, mulai tumbuh rasa percaya diri
dan kecintaan terhadap matematika. Beliau bukan hanya sekadar pengajar, tetapi
seorang mentor yang membantu saya memahami kemampuan diri. Di bawah
bimbingannya, tidak hanya matematika yang dikuasai, tetapi juga keyakinan bahwa
saya mampu mencapai lebih.
Masa SMP: Menghadapi Perundungan
dan Menemukan Jati Diri
Perjalanan pendidikan berlanjut
ke SMP Negeri 1 Malili pada tahun 2016, yang merupakan salah satu sekolah
unggulan di daerah. Masa SMP tidak berjalan mulus, karena menghadapi tantangan
berupa perundungan dari teman-teman. Mereka sering mengejek, meremehkan, dan
melakukan tindakan kasar, baik secara verbal maupun fisik.
Meski sangat menyakitkan, tidak
pernah membalas perlakuan tersebut. Sebaliknya, tetap fokus pada pendidikan dan
berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Pengalaman ini memberikan
banyak pelajaran tentang ketahanan, ketabahan, dan empati terhadap orang lain.
Di kelas sembilan, terpilih
sebagai Ketua UKS, yang menjadi pengalaman kepemimpinan pertama. Posisi ini
membantu dalam membangun rasa percaya diri dan keyakinan. Menyadari bahwa
setiap tantangan bisa diatasi dengan fokus pada nilai-nilai yang diajarkan orang
tua.
Masa SMA: Cobaan Terberat dan
Awal Kebangkitan
Setelah lulus SMP, pendidikan
dilanjutkan di SMA Negeri 1 Luwu Timur pada tahun 2019. Harapan untuk masuk
jurusan IPA muncul karena cita-cita ingin menjadi apoteker atau bekerja di
bidang kesehatan. Namun, hasil tes IQ menempatkan di jurusan IPS, menimbulkan
rasa kecewa dan pertanyaan mengenai keputusan tersebut.
Rasa kecewa ini membawa pada
pergulatan batin yang cukup besar. Keinginan untuk pindah jurusan ada, tetapi
setelah berdiskusi dengan ibu, beliau memberikan nasihat bijak. Ibu mengingatkan
untuk berdoa sebelum memilih, mungkin jurusan ini adalah yang terbaik menurut
Allah.
Di jurusan IPS, banyak hal
menarik ditemukan dan berhasil dikuasai, hingga meraih prestasi dengan
peringkat tiga umum di sekolah. Terpilih sebagai salah satu siswa yang eligible
untuk mengikuti seleksi nasional perguruan tinggi memberikan harapan baru.
Namun, kebahagiaan tersebut
tidak bertahan lama. Pada tahun ketiga SMA, kabar buruk datang ketika ayah
didiagnosis menderita tumor stadium akhir. Keluarga menghadapi krisis besar,
dengan ibu membawa ayah ke Makassar untuk pengobatan, sementara dua anak tinggal
di Malili.
Untuk membantu keuangan
keluarga, kerja sambil sekolah menjadi keharusan. Setiap hari, berbagai
pekerjaan dilakukan, mulai dari kantor swasta hingga pabrik keripik pisang.
Meskipun penghasilan kecil, tanggung jawab tetap diutamakan. Selain itu, usaha
kecil juga dicoba dengan berjualan kartu vaksin dan ceker ayam untuk menambah
pendapatan.
Ketika tinggal berdua dengan
adik, rutinitas sekolah berakhir pukul 15.00. Namun, karena bekerja di pabrik
keripik pisang, saya pulang lebih awal dengan izin dari guru. Pada pukul 12.00,
pekerjaan di pabrik dimulai hingga pukul 17.30. Terkadang, adik berada di rumah
sendiri atau dititipkan kepada teman.
Gaji harian sebesar Rp25.000
digunakan untuk mengolah ratusan biji pisang agung menjadi keripik. Namun,
setelah 15 hari, ibu meminta saya untuk berhenti bekerja karena khawatir,
mengingat usia yang masih 16 tahun dan belum memiliki SIM. Tak ingin menyerah, saya
mencoba bisnis mencetak kartu vaksin, tetapi usaha itu hanya bertahan sekitar
sebulan sebelum sepi peminat.
Inspirasi datang dari seorang
teman yang sering diajak memasak, yaitu Susi. Dia menyarankan untuk menjual
ceker ayam, karena menganggap ceker tersebut enak. Mencoba berjualan, awalnya
hanya 5 porsi yang terjual dalam sehari. Namun, seiring waktu, permintaan
meningkat hingga 15 hingga 20 porsi per hari.
Memasak dimulai sepulang sekolah
hingga pukul 20.00, terkadang memilih untuk tidak masuk sekolah jika pesanan
ceker menumpuk. Menariknya, yang mememsan itu kadang guru di SMA, bahkan
menjadi pelanggan setia ceker ayam saya. Usaha ini tidak hanya membantu
memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memberikan pengalaman berharga
dalam berwirausaha.
Kuliah: Melanjutkan Mimpi yang
Tak Pernah Padam
Setelah lulus SMA, keputusan
untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi diambil. Meskipun keadaan
ekonomi keluarga tidak memungkinkan, ayah selalu berkata, “Kuliah nak, jangan
risau terhadap biaya. Ingatlah bahwa itu mimpi ayah, dan ayah ingin anak-anaknya
bisa kuliah.” Kalimat tersebut terus terngiang di kepala, menjadi motivasi
untuk terus maju.
Akhirnya, diterima di
Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dengan jurusan Jurnalistik.
Ayah bahkan sempat mempersiapkan masa depan dengan membelikan rumah kecil di
dekat kampus. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Pada 28 Oktober 2022,
ayah meninggal dunia, momen terberat dalam hidup yang membuat hampir memutuskan
untuk berhenti kuliah.
Beberapa hari setelah kepergian
ayah, kabar baik datang dengan lolosnya seleksi beasiswa Kalla. Ini dianggap
sebagai jawaban dari doa-doa, dan menjadi tanda bahwa perjuangan harus
dilanjutkan. Setelah kehilangan ayah, ibu, Saharia, mengambil peran besar sebagai
orang tua tunggal. Beban yang ditanggungnya jelas berat, terutama dalam
menghidupi dua anak yang masih membutuhkan dukungan.
Meski kondisi ekonomi tidak
sebaik dulu, ibu tidak pernah menunjukkan kelemahan. Dia bekerja keras,
memanfaatkan segala kemampuan dan peluang demi memastikan pendidikan dan
kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Kehidupan sebagai orang tua tunggal
bukanlah hal yang mudah, tetapi ibu menjalaninya dengan penuh cinta dan
ketulusan.
Saat ini, kuliah di semester
lima dijalani dengan fokus pada akademik. Selain itu, aktif dalam kegiatan
organisasi dan bekerja part-time untuk membantu ibu. Berusaha sekuat tenaga
mempertahankan beasiswa ini, karena ini adalah jalan untuk mewujudkan mimpi
ayah yang ingin melihat anak-anaknya sukses.
Mimpi, Harapan, dan Cita-Cita
Setiap perjuangan dan tantangan
mengajarkan bahwa kehidupan ini penuh ujian. Dengan semangat, kerja keras, dan
doa, tidak ada yang mustahil. Mimpi terbesar adalah menjadi sarjana yang
membanggakan keluarga, terutama ibu, yang kini menjalani hidup tanpa ayah di
sisinya.
Cita-cita pun berkembang seiring
perjalanan hidup dan pengalaman. Keinginan untuk menjadi dosen muncul karena
melalui profesi ini, bisa berkontribusi dalam membentuk generasi masa depan.
Harapan adalah menjadi seseorang yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai kehidupan untuk membantu mahasiswa menghadapi tantangan.
Menjadi dosen juga berarti terus
belajar dan berkembang. Berperan sebagai jembatan bagi mahasiswa yang mengalami
kesulitan, memberikan inspirasi dan dorongan untuk meraih impian. Impian untuk
meraih pendidikan tinggi bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi sebagai bentuk
penghormatan terhadap perjuangan almarhum ayah dan dedikasi ibu.
Dengan semangat dan tekad, tidak
ada yang tidak mungkin, bahkan bagi mereka dari latar belakang sederhana.
Pendidikan adalah pintu menuju kehidupan yang lebih baik, dan niatnya adalah
membuka pintu itu untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Menjadi dosen dan meraih
pendidikan tinggi diharapkan bisa menjadi teladan bagi adik dan perempuan lain,
menunjukkan bahwa mimpi besar dapat dicapai dengan ketekunan. Pendidikan adalah
investasi terbaik, dan melalui profesi ini, dapat berkontribusi menciptakan
masyarakat berpengetahuan dan berdaya saing tinggi.
Kehidupan hingga saat ini adalah
perjalanan panjang penuh liku. Dari kehilangan, perundungan, hingga tanggung
jawab besar di usia muda, pelajaran tentang kekuatan dan ketekunan telah
dipetik. Meski jalan tidak selalu mudah, semua cobaan dipandang sebagai
persiapan untuk sesuatu yang lebih besar di masa depan.
Setiap langkah yang diambil dan
perjuangan yang dihadapi didedikasikan untuk keluarga, terutama almarhum ayah
yang selalu mendorong untuk bermimpi besar. Keyakinan bahwa beliau bangga
dengan perjalanan ini menjadi pendorong untuk terus berjuang mewujudkan
mimpi-mimpi yang pernah dibicarakan.
Akhir kata, hidup ini mungkin
penuh tantangan, tetapi selalu ada harapan di baliknya. Adalah bukti hidup
bahwa dengan doa, kerja keras, dan keyakinan, keterbatasan dapat diubah menjadi
kekuatan. Pendidikan adalah kunci, dan dengan pendidikan, masa depan cerah
menanti di ujung perjalanan ini.
Penulis : Sity Asriyanti Utami

Komentar
Posting Komentar