LAKAH KECIL DARI DESA KECIL MENUJU IMPIAN

 Nama saya Tri Widiyarti, lahir pada tanggal 21 Agustus 2005 di sebuah desa kecil yaitu di Desa Kangga (Nggira), Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima. Saya adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dan sejak kecil, saya dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan lebih suka menyendiri. Namun, di balik sikap tersebut, saya memiliki semangat belajar yang tinggi.

Memasuki Masa sekolah dasar , Madrasah Iptidaiyah Nggira adalah masa di mana saya mulai memahami arti pertemanan. Saya cukup berprestasi di sekolah, sering meraih peringkat satu dan mengikuti berbagai olimpiade serta cerdas cermat. Di waktu luang, saya sangat menikmati bermain voli, meski kini olahraga itu tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas saya.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar, saya melanjutkan pendidikan di sekolah menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah Negeri 03 Bima. Di sini, saya beberapa kali berhasil masuk 10 besar di kelas, tetap mempertahankan prestasi akademik, di sekolah menengah pertama tidak ada yang terlalu spesial menurutku, perjalan sekolah menengah pertama tidak jauh berbeda dari cerita anak-anak lain yaitu menyukai teman sekelas.

Perjalanan pendidikan saya semakin menantang ketika memasuki sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah Negeri 01 Kota Bima. Meskipun saya masih berhasil meraih prestasi akademik, dan termasuk salah satu wisudawati terbaik, masa SMA terasa lebih berat. Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan membuat segalanya berubah. Sekolah beralih ke metode daring, namun akses jaringan di desa saya sangat terbatas, sehingga proses belajar menjadi sangat sulit.

Namun, di balik kesulitan tersebut, saya menemukan sahabat sejati yang mengerti perangai burukku, menjadi support system terbaik dan selalu mendukung apa yang saya lakukan. Hubungan kami tetap kuat, dan hingga kini kami masuk ke kampus yamg sama tetapi berbeda jurusan.

 

Pada tahun 2022, saya diterima di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan jurusan Jurnalistik. Awalnya, saya sempat merasa khawatir tentang bagaimana kehidupan di kampus, terutama soal pertemanan.

Namun, kekhawatiran tersebut terbukti salah. Saya sangat bersyukur memiliki teman-teman kuliah yang baik dan selalu ada di saat-saat sulit. Mereka membuktikan bahwa teman kuliah tidak seburuk yang saya bayangkan.

Perjalanan hidup saya telah mengajarkan banyak hal, mulai dari makna pertemanan hingga bagaimana menghadapi tantangan di setiap fase kehidupan. Saya percaya bahwa dengan terus bersyukur dan berusaha, semua kesulitan bisa dilewati

Penulis : Tri Widiyarti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Komunikator Terbaik, Mr. Koronis Ajak Apresiasi Peran Guru di Hari Guru Nasional

Komunikasi Penuh Kasih Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Teladan Nilai Kemanusiaan dalam Al-Quran

Komunikasi Ketahanan Keluarga Kronis