AUTOBIOGRAFI SYAMSARI KITTA
Menjabat sebagai Bupati Takalar sejak 2017,
Syamsari Kitta akan mengakhiri masa jabatannya pada 2022. Pada Juni 2021, pria
berusia 47 tahun itu secara terang-terangan akan memilih bersaing menuju
Senayan sebagai anggota DPR-RI daripada melanjutkan jabatan bupati di periode
kedua.
Pada kancah politik regional, Syamsari
dikenal sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Gelora Sulawesi Selatan (Sulsel), jabatan yang
diembannya sejak tahun lalu. Merupakan singkatan dari Gelombang Rakyat
Indonesia, partai tersebut didirikan oleh eks-Presiden PKS asal Bone yakni Anis
Matta, pada Oktober 2019.
Banyak yang masih asing dengan
namanya, padahal ia diakui membawa misi membangun pertanian-peternakan untuk
meningkatkan taraf hidup penduduk Takalar.
Syamsari Kitta lahir di Desa
Campagaya, Kelurahan Galesong, Kabupaten Takalar, pada 24 September 1974.
Tahun-tahun SD dan SMP dihabiskan di tanah kelahirannya, sebelum hijrah ke ibu
kota provinsi untuk bersekolah di SMAN 2 Makassar (1989-1992).
Selepas masa putih abu-abu, ia
melanjutkan pendidikan di Program Studi Peternakan Institut Pertanian Bogor
(IPB). Saat jadi mahasiswa, Syamsari tercatat menjadi Ketua Senat Fakultas
Peternakan IPB periode 1996-1997 serta pengurus Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan
Indonesia (ISMAPETI) tahun 1995-1997.
Setelah lulus dari IPB pada 1997,
Syamsari kemudian kembali ke kampung halaman. Tak berapa lama setelah Orde Baru
tumbang, ia terjun ke dunia politik di usia 24. Di tahun 1998, Syamsari
bergabung ke Partai Keadilan yang baru dibentuk dengan posisi sebagai Ketua
Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kabupaten Takalar.
Partai Keadilan adalah cikal bakal
Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namanya berganti pada awal 2000-an seiring
kegagalan mencapai ambang batas parlemen pada Pemilu 1999. Syamsari saat itu
tetap bersama PKS, dengan jabatan sebagai Ketua Bidang Dewan Pimpinan Wilayah
(DPW) Sulsel.
Syamsari mengawali karier politiknya
dengan terjun ke Pemilu Legislatif (Pileg) 2004 untuk berebut satu kursi di
DPRD Sulsel. Hasilnya, ia jadi salah satu dari beberapa calon yang keluar
sebagai jawara di Daerah Pemilihan (Dapil) Sulsel I. Usai periode 2004-2009,
Syamsari kembali terpilih untuk melanjutkan masa bakti 2009-2014.
Pada tahun 2012, peruntungan di
Pilkada Takalar 2012-2017 dijajalnya bersama mendiang Hamzah Barlian sebagai
calon wakil bupati (cawabup). Tapi saat itu, Syamsari berada pada urutan dua
perolehan suara dengan mengumpulkan 40.152 suara, unggul dari lima pasangan
calon lainnya. Sementara itu, sang pemenang yakni Burhanuddin "Bur"
Baharuddin-M. Natsir "Nojeng" Ibrahim mengantongi 49.521 suara.
Di Pileg 2014, peruntungan berebut
satu kursi di DPR-RI sempat dicobanya. Tapi dalam perlombaan menuju Senayan,
Syamsari kalah perolehan suara dari Tamsil Linrung, "seniornya" di
PKS Sulsel.
Pada tahun 2016, suami Irma Andriyani
itu mengumumkan keikutsertaan di Pilkada Takalar periode 2017-2022. Masih
sebagai calon bupati, kali ini politikus NasDem Ahmad Dg Se're yang digandeng
untuk posisi calon wakil bupati.
Syamsari-Ahmad keluar sebagai
pemenang. Mereka mengalahkan kontestan tunggal sekaligus pasangan petahana
Bur-Nojeng, rival mereka di Pilkada sebelumnya, dengan perolehan suara tipis
yakni 50,58 persen berbanding 49,52 persen.
kebijakannya pada level
pemerintah daerah membuahkan hasil. Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS),
jumlah penduduk miskin bisa diturunkan meski tak drastis. Dari 26.990 di tahun
2017 ke 26.570 pada 2018. Setahun kemudian, angkanya kembali turun ke 25.930,
dan pada 2020 di angka 25.380.
Syamsari juga pernah berkecimpung di
sejumlah organisasi. Mulai dari Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia
Sulawesi Selatan, Dewan Penasehat Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia
(BPKRMI) Sulawesi Selatan, serta Pengurus Provinsi Persatuan Sepak Bola Seluruh
Indonesia (PSSI) Sulawesi Selatan.
Penyuka olahraga tenis dan bersepeda
itu juga pernah mendapat penghargaan dari Indonesia Visionary Leader 2019
kategori The Best in Promoting Productive Agriculture. Untuk
memaksimalkan potensi agraria daerahnya, beberapa kebijakan digodok. Mulai dari
pembagian satu ekor sapi per KK, pemberdayaan kelompok tani, proyek irigasi,
kerjasama dengan beberapa lembaga pertanian, hingga pendirian Institut
Teknologi Pertanian (ITP) Takalar pada 2020.
Di tengah kesibukan sebagai bupati, ia
masih fokus menuntut ilmu dan pendidikan secara umum. Syamsari sedang dalam
proses menyesaikan program doktor Manajemen Bisnis di Sekolah Bisnis-Institut
Pertanian Bogor (SB-IPB). Di tahun 2013, ia bahkan sempat menjadi dosen Program
Studi Hukum Ekonomi Syari'ah (Mu'amalah) di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
YAPIS Takalar.
Komentar
Posting Komentar